Peserta Ujian Semester-an Mengisi Lembar Jawaban

Suasana keseriusan dan penuh khidmat di kelas ruang ujian pada Ujian Semester Ganjil Tahun 2016.

Para Teachers Ceria dan Semangat dalam Membimbing Belajar

Para Teachers siap memberikan arahan, bimbingan pembelajaran kapan dan dimanapun, di kelas maupun di jam pelajaran.

Apresiasi Peserta Didik dalam Pembelajaran di Ruang Kelas Bersama Teachers

Anak didik tidak merasakan lelah, kebosanan dengan metode pembelajaran yang Active Learning dari para Teacher berpengalaman.

Pendampingan Siswa/i dalam Kegiatan Pembelajaran

Pendampingan terhadap anak didik yang diberikan Teachers merupakan kunci sukses dalam pembelajaran di BIC.

Keharmonisan Para Teacher dengan Sesama Tenaga Pendidik

Menjaga solidaritas dan harmonisasi sesama Tenaga Pendidik sangat memungkinkan berefek baik pada Peserta Didik.

Tampilkan postingan dengan label Makna al-Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makna al-Hadits. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2017

Islam itu didirikan atas lima perkara

Rasulullah Nabi saw. bersabda, "Islam itu didirikan atas lima perkara.

"Iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Ia dapat bertambah dan dapat pula berkurang".

Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)" (al-Fath: 4),

"Kami tambahkan kepada mereka petunjuk."(al-Kahfi: 13),
"Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk." (Maryam: 76),

"Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya" (Muhammad: 17),

"Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya" (al-Muddatstsir: 31),

"Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya." (at-Taubah: 124),

"Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka." (Ali Imran: 173), dan

"Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (kepada Allah)." (al-Ahzab: 22)

Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah adalah sebagian dari keimanan.

Rabu, 08 Maret 2017

Dalam Qishaash Itu Ada (jaminan kelangsungan) Hidup (فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ)

Rasulullah saw bersabda :

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله الا الله وانى رسول الله الا بإحدى ثلاث: الويب الثانى والنفس بالنفس والتحرك لدينه المفارق للجماعة {رواه البخاري ومسلم}

"Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah saw bersabda : “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Aku adalah Rasul-Nya, kecuali karena satu dari tiga hal berikut: Tsayyib (orang yang sudah menikah/janda/duda) yang berzina, membunuh orang, dan meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jamaah."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kandungan hadits :

1. Terpeliharanya jiwa seorang muslim.

Barangsiapa yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mengaku keberadaan Allah swt, mengesakan-Nya, membenarkan kenabian Muhammad saw, mengakui risalah yang dibawanya, maka jiwanya terpelihara. Siapapun tidak dibenarkan membunuhnya. Jaminan ini berlaku bagi seorang muslim. Kecuali jika ia melakukan satu dari tiga hal berikut:

● Membunuh orang lain dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariah
● Berzina, bagi orang yang telah menikah
● Murtad, keluar dari agama islam.

2. Rajam

Para ulama sepakat bahwa hukuman orang yang berbuat zina dan sudah pernah menikah adalah dirajam hingga meninggal. Karena ia telah merusak kehormatan orang lain, padahal Allah swt, telah memberikan nikmat “kesenangan” biologis secara halal, tetapi ia memilih yang keji dan meninggalkan yang baik. Dengan melakukan zina, ia telah melakukan kejahatan terhadap sisi kemanusiaan, karena perbuatan tersebut bisa merusak silsilah keturunan.

Puncaknya ia telah melanggar larangan Allah swt, di dalam firman-Nya yang artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk". (QS. Al-Isra’: 32).

3. Qishash

Ijma’ Ulama menyepakati siapapun yang membunuh seorang muslim dengan sengaja maka ia harus dijatuhi hukum qishash, hukum bunuh. Allah swt berfirman:

وَكَتَبۡنَا عَلَيۡهِمۡ فِيهَآ أَنَّ ٱلنَّفۡسَ بِٱلنَّفۡسِ وَٱلۡعَيۡنَ بِٱلۡعَيۡنِ وَٱلۡأَنفَ بِٱلۡأَنفِ وَٱلۡأُذُنَ بِٱلۡأُذُنِ وَٱلسِّنَّ بِٱلسِّنِّ وَٱلۡجُرُوحَ قِصَاصٞۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِۦ فَهُوَ كَفَّارَةٞ لَّهُۥۚ وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٤٥

"Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Maidah: 45)

Dengan hukum qishash, diharapkan manusia akan merasakan hidup yang aman. Allah berfirman yang artinya: “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 179)

Lebih lanjut jika Mukallaf (orang yang sudah terbebani kewajiban atau baligh) baik laki-laki maupun perempuan membunuh seseorang dengan sengaja dan tanpa alasan yang sah, maka kepadanya dikenakan hukum qishash, yaitu di bunuh sebagaimana ia membunuh.

Dalam hal inilah ada jaminan hidup bagi siapapun manusia. HAM atau Hak Asasi Manusia tanpa harus didengung-dengungkan sudah ditegakkan. Bila hukum ini ditegakkan, maka siapapun manusianya akan berpikir seribu kali untuk membunuh manusia lain tanpa hak. Hal ini karena sudah tahu apa yang akan didapat dari pembunuhannya, pasti kematian dirinya.

Berbeda dengan keadaan sekarang, jiwa bisa terbunuh hanya karena uang seribu, bahkan lebih ironis hanya karena kakinya terinjak tanpa sengaja. Pembunuh yang bebas dari qishash, ia akan merasa bangga dan tak segan-segan di masa yang akan datang membunuh lagi, ia tidak takut lagi karena yang pertama pun lolos dari qishash.

Maka benar sekali al-Qur'an mengatakan, bahwa dalam qishash terdapat kehidupan, jaminan kelangsungan hidup (2:179).

4. Hukuman bagi orang yang murtad

Para ulama sepakat, jika ada seorang laki-laki yang murtad, lalu bersikukuh dengan kekafirannya dan tidak mau kembali masuk Islam, maka ia dijatuhi hukuman mati. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, “Dan keluar dari agamanya.” Dalam hadits lain, Ibnu ‘Abbas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw, bersabda: “Barangsiapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah.” (HR. Bukhari dan ashhab sunan/para pemilih sunan)

Namun para ulama berbeda pendapat seputar wanita yang murtad. Jumhur ulama berpendapat bahwa wanita yang murtad tetap dijatuhi hukuman mati, seperti laki-laki. Karena hadits yang menyatakan hukuman bagi orang yang murtad bersifat umum
Sedangkan madzab Hanafi berpendapat bahwa ia tidak dibunuh. Cukup dipenjarakan, hingga ia kembali masuk Islam atau mati di dalam penjara. Mereka menggunakan dalil hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah saw, melarang membunuh wanita dalam peperangan. Larangan ini bersifat umum, tidak ada perbedaan antara orang kafir semenjak awal dengan orang kafir karena murtad.

5. Meninggalkan shalat

Para ulama sepakat, bahwa orang yang meninggalkan shalat, karena ingkar, maka ia telah murtad dan dijatuhi hukuman mati. Adapun jika ia meninggalkan karena malas dan masih mengakui bahwa shalat hukumnya wajib, maka para ulama berbeda pendapat. Jumhur ulama berpendapat bahwa orang seperti ini harus diminta untuk taubat. Jika tidak mau bertaubat, maka ia dijatuhi hukuman mati sebagai “hukuman pelanggaran” dan bukan karena “hukuman murtad”.

Imam Ahmad dan sebagian pengikut madzab Maliki berpendapat, bahwa orang seperti ini dijatuhi hukuman mati, karena telah kafir. Sedangkan madzab Hanafi berpendapat bahwa ia dipenjara hingga ia mau shalat atau mati di dalam penjara. Selama menjalani hukuman kurungan, ia juga dihukum cambuk atau sejenisnya.

Allah swt, berfirman di dalam Al-Qur'an surat Ar-Ruum ayat 31 yang artinya: “Dan tegakkanlah shalat dan janganlah kalian menjadi bagian dari orang-orang musyrik.” Dalam firman-Nya yang lain, yang artinya : “Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat serta mau menunaikan zakat, maka mereka adalah saudaramu seagama.” (QS. At-Taubah: 11)

Perumpamaan Dunia : Seperti Air Yang Menetes Dari Jari Setelah Dicelupkan

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَمُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ الْمُسْتَوْرِدَ أَخَا بَنِي فِهْرٍ يَقُولُ

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مَثَلُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَثَلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ.

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Ayahku dan Muhammad bin Bisyr keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abu Khalid daripada Qais bin Abu Hazim dia berkata; saya mendengar Al Mustaurida saudara Bani Fihr berkata, "Saya mendengar Rasulullah sollallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tiadalah perumpamaan dunia dengan akhirat melainkan seperti ketika seseorang daripada kalian memasukkan jarinya ke dalam lautan, maka lihatlah berapa teteskah yang masih tersisa (di jari tangannya)".
(HR. Ibnu Majah : 4108, Ahmad : 17322, 17323, 17326)

Perumpamaan Dunia : Seperti Air Yang Menetes Dari Jari Setelah Dicelupkan

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَمُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ الْمُسْتَوْرِدَ أَخَا بَنِي فِهْرٍ يَقُولُ

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مَثَلُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَثَلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ.

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Ayahku dan Muhammad bin Bisyr keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abu Khalid daripada Qais bin Abu Hazim dia berkata; saya mendengar Al Mustaurida saudara Bani Fihr berkata, "Saya mendengar Rasulullah sollallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tiadalah perumpamaan dunia dengan akhirat melainkan seperti ketika seseorang daripada kalian memasukkan jarinya ke dalam lautan, maka lihatlah berapa teteskah yang masih tersisa (di jari tangannya)".
(HR. Ibnu Majah : 4108, Ahmad : 17322, 17323, 17326)

Selasa, 07 Maret 2017

لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَك َالْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ ".

سنن أبي داود | أَوْلُ كِتَابِ الْأَدَبِ  | بَابٌ : فِي حُسْنِ الْخُلُقِ | الجزء رقم :5، الصفحة رقم:98/4800

Senin, 06 Maret 2017

Mana Lebih Penting, Ilmu atau Akhlak

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Penuntut ilmu yang datang di majelis Imam Ahmad 5.000 orang atau lebih, 500 menulis hadits, sedangkan sisanya duduk untuk mempelajari akhlaq dan adab beliau”.
(Syiar A’lamin nubala’:11/316).

Abu Bakar Bin Al-Muthowi’I berkata, “Saya keluar masuk di rumah Abu Abdillah (Imam Ahmad Bin Hambal) selama 12 tahun sedangkan beliau sedang membacakan kitab Musnad kepada anak-anaknya. Dan selama itu saya tidak pernah menulis satu hadits pun dari beliau, hal ini disebabkan karena saya datang hanya untuk belajar akhlaq dan adab beliau.”
(Siyar A‘lamin Nubala’:11/316).

Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri -Rahimahulloh- berkata, “Mereka dulu tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk mencari ilmu hingga mereka belajar adab dan dididik ibadah hingga 20 tahun.”
(Hilyatul-Auliya’, Abu Nuaim: 6/361).

Abdullah bin Mubarak Rahimahullah: “Aku mempelajari adab 30 tahun dan belajar ilmu 20 tahun, dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu baru kemudian mempelajari ilmu”.
(Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro 1/446).

Beliau juga berkata: “Hampir-hampir adab menimbangi 2/3 ilmu”.
(Sifatus-shofwah Ibnul-Jauzi 4/120).

Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan sanadnya kepada Malik bin Anas, dia berkata bahwa Muhammad bin Sirin berkata (-rohimahulloh-): “Mereka dahulu mempelajari adab seperti mempelajari ilmu”.
(Al-Jami’li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/49).

Makhlad bin Husain Rahimahullah, “Kami lebih butuh kepada adab walaupun sedikit dari pada hadits walaupun banyak.”
(Al-Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80).

Abu Zakariya Yahya bin Muhammad Al-Anbari Rahimahullah berkata, “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar sedangkan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”.
(Al-Jami’ li Akhlaqir-Rawi wa Adabis-Sami’ 1/80).

Ilmu menjadi dasar sebuah perbuatan. Ibadah tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh. Ilmu tanpa Akhlak seperti manusia tanpa jasad.

Ilmu sebagai ruh dan Akhlak seperti jasadnya. Dengan demikian, Ilmu harus diriasi dengan Akhlak sedangkan Akhlak harus berdasarkan Ilmu.

Ibarat seorang manusia berilmu yang segala perbuatannya dihiasi Akhlak akan menjadi manusia mulia. Bila sebaliknya  berilmu tanpa Akhlak menjadi manusia keji, karena ilmunya cenderung digunakan pada kejahatan. Lain halnya, berakhlak tanpa Ilmu ia masih dikatakan orang baik, atau kini menyebutnya berkarakter.

Maka dari itu, Rasulullah saw diutus untuk menyempurnakan Akhlak, "Innamaa bu'istu li utammima makaarimal akhlak".

Sabtu, 04 Maret 2017

Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi

Rasulullah SAW bersabda :

‎من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين.

"Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat niscaya dia akan disinari cahaya antara dua jum'at."

Allaah SWT berfirman:

‎الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا ۜ (1) قَيِّمًا

(1) Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak ada kebengkokan di dalamnya;
(2) sebagai bimbingan yang lurus (QS. Alkahfi:1-2)

Pembukaan surat ini Allaah SWT memulainya dengan memuji diriNya, karena hanya Allaah-lah yang berhak atas segala pujian dan segala kesempurnaan atas segala nikmat yg telah diberikan kepada segenap ummat manusia.

Diantara hikmah memuji diriNya, karena Dia mempunyai sifat Keagungan dan Kebesaran yang tidak akan membuatNya besar kepala dan tinggi hati atas pujian tersebut. Berbeda halnya dengan manusia yang hanya Dia berikan sedikit amanah kekuatan dan keluasan rezeki dariNya, namun masih sangat sedikit yang bersyukur atas nikmat tersebut.

Allaah SWT memberi gelar sebaik-baik gelar bagi Nabi Besar Muhammad SAW dengan panggilan "Hamba". Ini karena Al-Qur'an diturunkan kepada hambaNya yaitu nabi Muhammad SAW.

Rasulullah bersabda bahwa sesiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat niscaya dia akan disinari cahaya antara dua jum'at.

Semoga kita bisa mendawamkannya.

Rabu, 01 Maret 2017

Gambaran Seorang Teman Beriman

Rasulullah saw bersabda:

‎حديث أَبِي مُوسى رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صلى... الله عليه وسلم، قَالَ: مَثَلُ جَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ؛ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Abu Musa r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Perumpama­an kawan yang baik dan yang buruk, bagaikan pembawa misik (minyak kasturi) dengan peniup api tukang (pandai) besi, maka (jika kamu sering bergaul dengan) pembawa misik (minyak kasturi), bisa jadi ia akan memberimu atau anda akan membeli darinya, atau (minimal) mendapat bau harum daripadanya. Adapun peniup api tukang besi, jika tidak mem­bakar bajumu atau anda akan mendapat bau yang busuk daripadanya. [HR. Bukhari]

Itulah gambaran seorang teman. Seorang teman bagaimana temannya. Bila baik akan terbawa baik, begitu juga sebaliknya. Seharusnya sesama saudara seperti yang tertera dalam firman Allah di bawah ini.

‎وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan kesalahan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. Al-Maidah : 2)

Teman itu harus mengajak kepada kebaikan. Membawa kita ke surga. Bila tidak, ia akan menjadi musuh di akhirat kelak.
Allaah SWT berfirman :

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf : 67)

Selasa, 28 Februari 2017

HADITS ANJURAN MEMATIKAN LAMPU SAAT MAU TIDUR

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَطْفِئُوا الْمَصَابِيحَ إِذَا رَقَدْتُمْ وَغَلِّقُوا الْأَبْوَابَ وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَأَحْسِبُهُ قَالَ وَلَوْ بِعُودٍ تَعْرُضُهُ عَلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Hammam dari 'Atha` dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Matikanlah kalian apabila kalian hendak tidur, dan tutuplah pintu rumah kalian, tutuplah wadah-wadah kalian serta tutup pula tempat makan dan tempat minum kalian -aku mengira beliau juga bersabda- walaupun hanya dengan sepotong kayu yang dapat menutupinya." (HR. Bukhari)

Pesan hadis ini dapat disarikan agar sebelum tidur hendaknya;
(i) mematikan lampu,
(ii) menutup pintu rumah,
(iii) menutup wadah,
(iv) memutup tempat makan dan tempat minum.

Hadis ini dapat difahami secara tekstual maupun konstektual. Secara tekstual, mempersiapkan tidur harus sebaik dan serapi mungkin. Lampu dimatikan, pintu ditutup rapat, wadah-wadah ditutup, dan tempat makanan dan minuman juga ditutup. Perintah ini, tentu memiliki manfaat.

Penelitian mengatakan,  mematikan lampu saat tidur bermanfaat untuk kesehatan. Diantranya menjadikan otak lebih fresh, karena tubuh beristirahat dengan optimal.

Tidur berkualitas; deep sleeping, sangat dibutuhkan setiap orang. Ciri utamanya saat tidur tidak bermimpi, bangun tidur tubuh sangat segar dan siap beraktivitas. Tidak ada sakit ini atau sakit itu. Tidak ada pusing-pusing. Tidak ada pula pegal-pegal. Jika ada, maka ada masalah dengan tubuhnya.

Untuk mendapatkan tidur berkualitas, seseorang dapat melakukan beberapa langkah penting. Diantaranya, (i) tidak tidur dalam keadaan perut kenyang, (ii) berwudhu dan bersiwak sebelum tidur, (iii) berdoa dan berzikir al-ma'tsurat sebelum tidur, (iv) tidur sebelum jam 23.00, dan (v) tidur dalam keadaan lampu mati.

Anjuran ini, merupakan diantara sunnah yang menyehatkan. Sehat secara lahiriyah dan sehat secara batiniyah. Berapa banyak orang yang tidak dapat tidur nyenyak. Tidak tidur berkualitas, yang pada akhirnya jatuh sakit. Banyak pula yang secara sadar maupun tidak mengabaikan pentingnya tidur berkualitas.

Minggu, 26 Februari 2017

Mutiara Hadits Nabi SAW

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya (HR.Muslim)

ﺃﺣﺒﻜﻢ ﺇﻟﻲ ﻭﺃﻗﺮﺑﻜﻢ ﻣﻨﻲ ﻣﺠﻠﺴﺎ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺃﺣﺎﺳﻨﻜﻢ ﺃﺧﻼﻗﺎ

وDari "Jabir bin Abdullah Ansari ra. (semoga Allah senantiasa ridha kepadanya), ia berkata bahwa, "Rasulullah ﷺ bersabda:

 ﺇﻥ ﻣﻦ ﺃﺣﺒﻜﻢ ﺇﻟﻲ ﻭﺃﻗﺮﺑﻜﻢ ﻣﻨﻲ ﻣﺠﻠﺴﺎ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ، ﺃﺣﺎﺳﻨﻜﻢ ﺃﺧﻼﻗﺎ، ﻭﺇﻥ ﻣﻦ ﺃﺑﻐﻀﻜﻢ ﺇﻟﻲ ﻭﺃﺑﻌﺪﻛﻢ ﻣﻨﻲ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ، ﺍﻟﺜﺮﺛﺎﺭﻭﻥ ﻭﺍﻟﻤﺘﺸﺪﻗﻮﻥ ﻭﺍﻟﻤﺘﻔﻴﻬﻘﻮﻥ، ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ، ﻗﺪ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﺍﻟﺜﺮﺛﺎﺭﻳﻦ ﻭﺍﻟﻤﺘﺸﺪﻗﻴﻦ، ﻓﻤﺎ ﺍﻟﻤﺘﻔﻴﻬﻘﻮﻥ ؟ ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﻤﺘﻜﺒﺮﻭﻥ ﺍﻟﺮﺍﻭﻱ: ﺟﺎﺑﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭﻱ ﺍﻟﻤﺤﺪﺙ : ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ - ﺍﻟﻤﺼﺪﺭ : ﺳﻨﻦ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ - ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﺮﻗﻢ 2018 :

"Sesungguhnya diantara orang-orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat tempat duduknya dariku pada Hari Kiamat adalah, orang-orang yg paling baik akhlaknya, Dan sesungguhnya diantara orang-orang yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di Hari Kiamat adalah, "Ast-Tsartsaaruun, wal-Mutasyaddiquun, wal-Mutafaihiquun. "Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui siapa "Tsartsaaruun [1]", dan "Mutasyaddiquun [2]" itu, lalu siapa "Mutafaihiquun[3]"? "Beliau ﷺ menjawab, "Yaitu orang-orang yg "TAKABUR".
Diriwayatkan dari, 'Jabir bin Abdullah Ansari radhiyallahu 'anhu. "Dan diriwayatkan kembali (diperbaharui) oleh, at-Tirmidzi, dan beliau berkata, "Hadits hasan. "Syaikh al-Albani berkata, "Shahih." (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi dng sanad yg diringkas, no 1642

Catatan:

[1]. "Ast-Tsartsaaruun" adalah, orang yang "BANYAK BICARA" dengan "MEMAKSAKAN DIRI."

[2]. "Al-Mutasyaddiq" adalah, orang yang "MENYOMBONGKAN DIRI" kepada orang lain dng ucapannya, yang memenuhi mulutnya dng kata-kata sambil memaksakan diri memfasihkannya dan mengagungkannya."

[3]. "Al-Mutafaihiquun" berasal dari: "Al-Fahq", artinya: Penuh, yaitu orang yg memenuhi mulutnya dng ucapan, berbicara panjang lebar, berkata aneh-aneh krn "TINGGI HATI" dan "SOMBONG", serta memperlihatkan kelebihan dirinya atas orang lain."

"At-Tirmidzi meriwayatkan dri Abdullah bin Mubarak rahimahulah tentang tafsir akhlak yang baik, beliau mengatakan, "Berwajah manis, memberikan kebaikan, dan tdk menganggu." (Lihat Tuhfah al-Ahwadzi, (6/143)

Sabtu, 25 Februari 2017

كل درهم عندهم صنم

قال رسول الله صلى الله عليه وأله وسلم:
سيأتي على الناس زمان بطونهم آلهتهم ونساؤهم قبلتهم ، ودنانيرهم دينهم ، وشرفهم متاعهم ، لا يبقى من الايمان إلا اسمه ، ومن الاسلام إلا رسمه ، ولا من القرآن إلا درسه ، مساجدهم معمورة ، وقلوبهم خراب من الهدى ، علماؤهم أشر خلق الله على وجه الأرض . حينئذ ابتلاهم الله بأربع خصال : جور من السلطان ، وقحط من الزمان ، وظلم من الولاة والحكام ، فتعجب الصحابة وقالوا : يا رسول الله أيعبدون الأصنام ؟ قال : نعم ، كل درهم عندهم صنم ) .متفق عليه

Bersabda rasulullah saw:akan datang suatu zaman atas manusia perut perut mereka menjadi tuhan - tuhan mereka,perempuan perempuan mrk menjadi kiblat mereka,dinar dinar mereka menjadi agama mereka,kehormatan mereka tergeletak pada kekayaan mereka,waktu itu tidak tersisa iman sedikitpun kecuali nama nya saja,tidak tersisa islam sedikitpun kecuali ritual ritual nya saja,tidak tersisa alqur'an sedikitpun kecuali pelajarannya saja, masjid masjid mereka makmur dan megah akan tetapi hati mereka kosong dari petunjuk (hidayah), ulama-ulama mereka menjadi mahluk yang paling terburuk di permukaan bumi, kalau terjadi zaman seperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka berbagai bencana:
1-kekejaman para pemimpin/penguasa,
2-kekeringan berkepanjangan, dan
3-kekejaman para pejabat serta kedzaliman para pengambil keputusan.
Maka ta'jub lah para sahabat mendengar pembicaraan nabi muhammad saw, mereka bertanya: wahai rasululloh apakah mereka penyembah berhala?
Nabi menjawab iya! Bagi mereka setiap serpihan kertas dan kepingan uang menjadi berhala.
(HR. Bukhori dan Muslim).

Jumat, 24 Februari 2017

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ « وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ ». رواه مسلم

"ما تواضع أحد لله إلا رفعه الله" فيه وجهان: أحدهما يرفعه في الدنيا ويثبت له بتواضعه في القلوب منزلة ويرفعه الله عند الناس ويجل مكانه: والثاني أن المراد ثوابه في الاَخرة ورفعه فيها بتواضعه في الدنيا. قال العلماء: وقد يكون المراد الوجهين معاً في جميعها في الدنيا والاَخرة والله أعلم . شرح مسلم للنووى

يقول ابن القيم : الله سبحانه يحب التواضع ويبغض الضعة والمهانة وفي الصحيح عنه (وأوحى إلى أن تواضعوا حتى لا يفخر أحد على أحد ولا يبغي أحد على أحد) والتواضع المحمود على نوعين

النوع الأول تواضع العبد عند أمر الله امتثالا وعند نهيه اجتنابا فإن النفس لطلب الراحة تتلكأ في أمره فيبدو منها نوع إباء وشراد هربا من العبودية وتثبت عند نهيه طلبا للظفر بما منع منه فإذا وضع العبد نفسه لأمر الله ونهيه فقد تواضع للعبودية

والنوع الثاني تواضعه لعظمة الرب وجلاله وخضوعه لعزته وكبريائه فكلما شمخت نفسه ذكر عظمة الرب تعالى وتفرده بذلك وغضبه الشديد على من نازعه ذلك فتواضعت إليه نفسه وانكسر لعظمة الله قلبه واطمأن لهيبته وأخبت لسلطانه فهذا غاية التواضع وهو يستلزم الأول من غير عكس والمتواضع حقيقة من رزق الأمرين والله المستعان
قال رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ دَرَجَةً رَفَعَهُ اللَّهُ دَرَجَةً حَتَّى يَجْعَلَهُ فِى عِلِّيِّينَ وَمَنْ تَكَبَّرَ عَلَى اللَّهِ دَرَجَةً وَضَعَهُ اللَّهُ دَرَجَةً حَتَّى يَجْعَلَهُ فِى أَسْفَلِ السَّافِلِينَ ». رواه أحمد وحسنه العسقلانى

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ ». رواه مسلم

السؤال:
بارك الله فيكم، هذه رسالة وصلتنا من المستمعة نورا أ. ت. من الرياض، تقول في رسالتها: في الحديث الذي ما معناه «لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر»، تقول: أريد الشرح لهذا الحديث، وهل الكبر معناه التكبر على الناس؟

الجواب:
معنى الحديث أن رسول الله صلى الله عليه وسلم يخبر أنه لا يدخل الجنة من في قلبه مثقال ذرة من كبر، وهذا النفي لدخول الجنة على نوعين، فإن كان هذا الكبر مقتضياً لكفره وخروجه عن الإسلام كما يتكبر عن شريعة الله، وردها أو ورد بعضها، فإن هذا النفي نفي للدخول بالكلية، لأن الكافر لا يدخل الجنة أبداً، ومأواه النار، خالداً فيها مخلداً، أما إذا كان الكبر تكبراً على الخلق، وعدم الخضوع على ما يجب عليه نحوهم بدون رد لشريعة الله، ولكن طغيان وإثم، فإن نفي الدخول هنا نفي للدخول الكامل، أي: أنه لا يدخل الجنة دخولاً كاملاً حتى يعاقب على ما أضاع من حقوق الناس، ويحاسب عليه، لأن حقوق الناس لا بد أن تستوفى كاملة، وبهذا يتبين أن الكبر ليس هو احتقار الناس فقط، بل الكبر كما فسره النبي عليه الصلاة والسلام بطر الحق، أي: رده وعدم الاكتراث به، وغمط الناس، أي: احتقارهم وازدراؤهم. الشيخ ابن العثيمين رحمه الله

يقول الله عز وجل { تِلْكَ الدَّارُ الْآَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ }(83)القصص

يقول ابن كثير : يخبر تعالى أن الدار الآخرة ونعيمها المقيم الذي لا يحول ولا يزول، جعلها لعباده المؤمنين المتواضعين، الذين لا يريدون علوًّا في الأرض أي: ترفعًا على خلق الله وتعاظمًا عليهم وتجبرًا بهم، ولا فسادًا فيهم.