Peserta Ujian Semester-an Mengisi Lembar Jawaban

Suasana keseriusan dan penuh khidmat di kelas ruang ujian pada Ujian Semester Ganjil Tahun 2016.

Para Teachers Ceria dan Semangat dalam Membimbing Belajar

Para Teachers siap memberikan arahan, bimbingan pembelajaran kapan dan dimanapun, di kelas maupun di jam pelajaran.

Apresiasi Peserta Didik dalam Pembelajaran di Ruang Kelas Bersama Teachers

Anak didik tidak merasakan lelah, kebosanan dengan metode pembelajaran yang Active Learning dari para Teacher berpengalaman.

Pendampingan Siswa/i dalam Kegiatan Pembelajaran

Pendampingan terhadap anak didik yang diberikan Teachers merupakan kunci sukses dalam pembelajaran di BIC.

Keharmonisan Para Teacher dengan Sesama Tenaga Pendidik

Menjaga solidaritas dan harmonisasi sesama Tenaga Pendidik sangat memungkinkan berefek baik pada Peserta Didik.

Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadhan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Juni 2017

Mutiara Ramadhan #4

حَدَّثَنَا ابْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ *عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ*
(رواه البخاري).

Artinya:
Dari Abu Hurairah (w. 59 H), bahwasannya Nabi SAW (w 11 H) bersabda: “Barangsiapa yang melaksanakan puasa Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
(HR. Bukhari (w. 256 H).

Hikmah Hadits :
Yang dimaksud dengan iman di sini adalah meyakini wajibnya puasa yang dia lakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan mengharapkan pahala/ihtisab adalah keinginan mendapatkan balasan pahala hanya dari Allah ta’ala.

Al-Imam al-Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang masyhur di kalangan para ulama ahli fikih tentang makna dari dosa-dosa yang diampuni dengan melakukan puasa Ramadhan adalah dosa-dosa kecil saja bukan dosa-dosa besar.

Mutiara Ramadhan #3

Pada suatu masa, Raja Iskandar Zulkarnain beserta pasukannya hendak berangkat menaklukkan suatu daerah. Pagi hari sebelum berangkat, Iskandar Zulkarnain berpesan kepada pasukannya:

"Dalam perjalanan, nanti malam kita akan melintasi sungai. Ambillah apa pun yang terinjak yang ada di sungai itu."

Ketika malam tiba dan pasukan Iskandar Zulkarnain melintasi sungai,

ada 3 golongan prajurit. Golongan  yang pertama tidak mengambil apa pun yang terinjak di sungai karena yakin itu hanya batu.

Golongan yang kedua mengambil alakadarnya yang terinjak di sungai, sekedar mengikuti perintah raja.

Yang ketiga mengambil sebanyak-banyaknya yang terinjak di sungai sehingga tasnya penuh dan kepayahan meneruskan perjalanan karena penuhnya bawaan.

Setelah melanjutkan perjalanan dan tiba pagi hari, Iskandar Zulkarnain bertanya kepada pasukannya, apa yang kalian dapatkan semalam? Ketika para prajurit memeriksa tasnya, ternyata isinya intan berlian.

Prajurit yang tidak mengambil apa-apa sangat menyesalinya.

Prajurit yang mengambil ala kadarnya ada perasaan senang bercampur penyesalan.

Prajurit yang sungguh-sungguh mengambil merasa sangat bahagia.

Cerita tersebut dikutip dari buku Tasawuf Modern karya Buya Hamka.

Kita akan melewati Ramadhan.
Di dalamnya banyak sekali keberkahan.
Dan kita memiliki 3 pilihan.

1. Melewati Ramadhan tanpa mengambil keberkahannya sedikit pun.

2. Melewati Ramadhan dengan mengambil keberkahan ala kadarnya.
Atau

3. Melewati Ramadhan dengan bersungguh-sungguh mengambil keberkahannya, dengan cara memperbanyak ibadah dan amal kebaikan lainnya.

Selasa, 30 Mei 2017

Mutiara Ramadhan #2

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ.
(رواه البخاري)

Artinya :
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu (59 H.) bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Apabila datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka.
HR. Bukhari (W.251 H)

Hikmah Hadits :
Ulama berbeda pendapat mengenai asal usul penamaan bulan Ramadhan, ada yang mengatakan dinamai bulan Ramadhan karena pada bulan itu dosa-dosa dibakar, hal ini sesuai dengan arti Ramadhan sendiri yaitu "sangat panas". Ada juga yang mengatakan dinamakan bulan Ramadhan karena dahulu permulaan puasa terjadi saat cuaca panas.

Al-Imam Ibn Hajar al-'Asqolani (W.852 H) menjelaskan dalam kitabnya Fath al-Bari makna yang terkandung dalam "dibukanya pintu surga ketika datang bulan ramadhan" adalah Allah membuka lebar kesempatan bagi hamba-Nya agar ta'at kepada-Nya, dimana dengan loyalitas keta'atan kepada-Nya dapat mengantarkan seorang hamba ke surga.

Senin, 29 Mei 2017

Mutiara Ramadhan #1

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا. رواه البخاري

Artinya :
Diceritakan dari Abu Hurairah (w.59 H), Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda: puasa adalah perisai, jika salah seorang kalian berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan berteriak-teriak. Dan jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah ia mengatakan "sesungguhnya aku sedang berpuasa" sebanyak dua kali. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangannya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misk. Ia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa untuk-Ku, dan aku yang akan membalasnya, dan kebaikan itu akan digandakan sepuluh kali lipatnya.
HR. al-Bukhari (w.256 H)

Hikmah Hadits :
Dalam hadits ini menceritakan keutamaan berpuasa. Bau mulut orang berpuasa lebih dicintai Allah swt dari pada haruman minyak misk. Bahkan dalam hadits lain dikatakan bahwa neraka itu dikelilingi oleh hal yang berbau syahwat (nafsu).

Salah satu penahan nafsu/ syahwat adalah dengan berpuasa. Dengan begitu puasa merupakan perisai bagi seseorang dari siksaan api neraka.

Apabila kita berpuasa kemudian ada yang mencaci atau berkata kotor, maka hendaknya kita berkata "sesungguhnya aku puasa". Dalam menanggapi hal ini para ulama berbeda pendapat apakah pelafalannya dengan lisan atau hati?

1. Pendapat pertama mengatakan, bahwa seseorang harus mengatakan kalimat diatas dengan lisannya sehingga orang yang menghina karena tidak tahu bahwa ia puasa dapat mengetahui bahwa ia puasa dan orang tersebut dapat menjaga dirinya dari perkataan yang tidak bermanfaat , keji dan kotor.

2. Pendapat kedua mengatakan, bahwa kalimat itu ditunjukan untuk dirinya, "apabila aku puasa maka tidaklah pantas merusak puasanya dengan kebodohan dan menahan dirinya dengan perkataan tersebut" .

3. Pendapat ketiga, membedakan antara puasa sunnah dan wajib. Ketika seseorang berpuasa wajib maka ia mengatakan kalimat tersebut dengan lisannya, namun apabila ia berpuasa sunnah maka perkataan itu untuk dirinya.

Sedangkan menurut imam Syafi’i, perintah itu mengandung dua makna secara bersamaan yaitu mengatakannya dengan lisan untuk memberitahu orang yang menghina, dan dikatakan pada diri sendiri untuk menahan diri dari menghina orang lain.

Ungkapan bahwa bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi dari misk, menurut Imam Syafi’i hal tersebut merupakan pengibaratan ridha dan qobulnya Allah akan amalan hamba-Nya. Sedangkan menurut Qodhi ‘Iyadh hal tersebut adalah balasan dari Allah atas amalan hamba-Nya.

Kamis, 18 Mei 2017

TRIK KHATAM AL QUR'AN DI BULAN RHOMADHON

Mengkhatamkan al-Qur'an di bulan Ramadhan merupakan dambaan setiap kaum Muslimin.

Inilah triks paling jitu dan ringan untuk dilaksanakan.

Selamat mencoba:

♻ UNTUK (1) KALI KHATAM, JUMLAH YG DIBACA :

1. Shalat Subuh     2 lembar
2. Shalat Zhuhur   2 lembar
3. Shalat 'Ashar     2 lembar
4. Shalat Maghrib 2 lembar
5. Shalat 'Isya       2 lembar

♻ UNTUK (2) KALI KHATAM :

1. Shalat Subuh    4 lembar
2. Shalat Zhuhur   4 lembar
3. Shalat 'Ashar     4 lembar
4. Shalat Maghrib 4 lembar
5. Shalat 'Isya        4 lembar

♻ UNTUK (3) KALI KHATAM :

1. Shalat Subuh    6 lembar
2. Shalat Zhuhur  6 lembar
3. Shalat 'Ashar     6 lembar
4. Shalat Maghrib 6 lembar
5. Shalat 'Isya   6 lembar

Inilah beberapa triks mudah mengkhatamkan al-Qur'an.