Peserta Ujian Semester-an Mengisi Lembar Jawaban

Suasana keseriusan dan penuh khidmat di kelas ruang ujian pada Ujian Semester Ganjil Tahun 2016.

Para Teachers Ceria dan Semangat dalam Membimbing Belajar

Para Teachers siap memberikan arahan, bimbingan pembelajaran kapan dan dimanapun, di kelas maupun di jam pelajaran.

Apresiasi Peserta Didik dalam Pembelajaran di Ruang Kelas Bersama Teachers

Anak didik tidak merasakan lelah, kebosanan dengan metode pembelajaran yang Active Learning dari para Teacher berpengalaman.

Pendampingan Siswa/i dalam Kegiatan Pembelajaran

Pendampingan terhadap anak didik yang diberikan Teachers merupakan kunci sukses dalam pembelajaran di BIC.

Keharmonisan Para Teacher dengan Sesama Tenaga Pendidik

Menjaga solidaritas dan harmonisasi sesama Tenaga Pendidik sangat memungkinkan berefek baik pada Peserta Didik.

Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Maret 2017

Kejujuran Adalah Segalanya

Alkisah, seorang wanita pergi kuliah di Prancis. Dia perhatikan bahwa sistem transportasi di sana menggunakan sistem otomatis, artinya anda beli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin.
Setiap perhentian kendaraan umum pakai cara "self-service" dan jarang sekali diperiksa petugas. Bahkan pemeriksa insidentil oleh petugas pun hampir tidak ada.

Akhirnya lama kelamaan dia temukan kelemahan sistem ini, dan dengan kelihaiannya dia bisa naik transportasi umum tanpa harus beli tiket dan dia perhitungkan kemungkinan tertangkap petugas karena tidak beli tiket sangat kecil. Sejak itu, dia selalu naik kendaraan umum dengan tidak membayar tiket. Dia bahkan merasa bangga atas kepintarannya tersebut

Dia berpendapat dalam hati karena dia anggap dirinya adalah murid miskin, dan kalo bisa irit ya irit. Namun, dia tidak sadar dia sedang melakukan kesalahan fatal yang akan mempengaruhi karirnya kelak.

4 tahun berlalu, dan dia tamat dari fakultas yang ternama dengan angka yang sangat bagus. Hal ini membuat dirinya penuh percaya diri. Lalu dia mulai mengajukan aplikasi kerja di beberapa perusahan ternama di Paris, dengan pengharapan besar untuk diterima. Pada mulanya, semua perusahan ini menyambut dia dengan hangat. Tapi berapa hari kemudian, semuanya menolaknya dengan berbagai alasan.

Hal ini terus terjadi berulang kali sampai membuat dia merasa tidak terima dan sangat marah. Bahkan dia mulai menganggap perusahan-perusahan ini rasis, karena tidak mau menerima warga negara asing. Akhirnya, karena penasaran dia memaksa masuk ke departemen tenaga kerja untuk bertemu dengan managernya. Dia ingin tahu alasan apa perusahan-perusahaan tersebut menolaknya. Ternyata, penjelasan yg didapat diluar perkiraannya...

Berikut adalah dialog mereka...

Manager: Nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkan anda. Pada saat anda mengajukan aplikasi pekerjaan di perusahan, kami sangat terkesan dengan nilai akademis dan pencapaian anda. Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, anda sebenarnya adalah golongan pekerja yang kami cari-cari.

Wanita: Kalau begitu, kenapa perusahan-perusahaan tersebut tidak menerima saya bekerja?

Manager: Jadi begini, setelah kami memeriksa di database, kami menemukan data bahwa nona pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik kendaraan umum.

Wanita: (Kaget) Ya saya mengakuinya, tapi apakah karena perkara kecil tersebut perusahan menolak saya?

Manager: Perkara kecil ?!? Kami tidak anggap ini perkara kecil, nona. Kami perhatikan pertama kali anda melanggar hukum terjadi di minggu pertama anda masuk di negara ini. Saat itu petugas percaya dengan penjelasan bahwa anda masih belum mengerti sistem transportasi umum disini. Kesalahan tersebut diampuni. Namun anda tertangkap 2x lagi setelah itu.

Wanita: Ohh waktu itu karena tidak ada uang kecil saja.

Manager: Tidak, tidak. Kami tidak bisa terima penjelasan anda. Jangan anggap kami bodoh ! Kami yakin anda telah melakukan penipuan ratusan kali sebelum tertangkap.

Wanita: Well, tapi itu bukan kesalahan mematikan bukan? Kenapa harus begitu serius? Lain kali saya berubah kan masih bisa?

Manager: Saya tidak anggap demikian, nona!. Perbuatan anda membuktikan dua hal:

#1. Anda tidak mau mengikuti peraturan yang ada. Anda pintar mencari kelemahan dalam peraturan dan memanfaatkan untuk diri sendiri.

#2. Anda tidak jujur terhadap diri sendiri, anda juga membohongi sistem juga petugas dengan kelihaian anda ketika menggunakan transportasi di negara ini.

#3. Maka Anda tidak bisa dipercaya! Nona, banyak pekerjaan di perusahan kami bergantung pada kepercayaan. Jika anda diberikan tanggungjawab atas penjualan di sebuah wilayah, maka anda akan diberikan kuasa yang besar. Karena efisiensi biaya, kami tidak akan memakai sistem kontrol untuk mengawasi pekerjaanmu. Perusahan kami mirip dengan sistem transportasi di negeri ini. Oleh sebab itu, kami tidak bisa pakai menerima anda, nona. Dan saya berani katakan, di negara kami bahkan seluruh Eropa, tidak ada perusahan yang mau menggunakan jasa anda.

Pada saat itu, wanita ini seperti tertampar dan terbangun dari mimpinya dan merasa sangat menyesal. Perkataan manager yang terakhir membuat hatinya bergetar dan menyesal.

Pelajaran terpenting dalam kisah ini adalah akhlak. Jujur merupakan sifat dasar utama yang harus dimilki oleh setiap muslim maupun muslimah. Pada sifat ini tertempel sifat-sifat yang lainnya seperti cerdas, pintar, amanah, dan penyampai. Sifat tersebut tanpa dipondasi dengan kejujuran tak ada artinya.

Sehingga sifat ini menjadi segalanya. Kekurangan IQ atau kepintaran yang didukung oleh kejujuran akan menjadi terpuji. Tetapi IQ atau kepintaran bagaimana pun tingginya tanpa kejujuran hanya akan menjadi si keji.

Lihat! perempuan tadi, ia tidak jujur. Tidak jujur terhadap dirinya maupun terhadap sesama atau lingkungan sekitar dalam menggunakan fasilitas umum. Ketidakjujuran menimbulkan ketidakpercayaan, orang yang tidak jujur mesti tidak dapat dipercaya.

Maka dari itu, kejujuran adalah segalanya. Jujur merupakan kunci sukses dalam berbisnis maupun bermasyarakat.

Minggu, 26 Februari 2017

CIRI-CIRI 'IBADURRAHMAN

Ibaadurrahman merupakan karakteristik para hamba ar-Rahman atau Allah. Hamba Allah yang memiliki ciri-ciri ini mendapat kehormatan di sisi-Nya serta pahala yang besar.

Karakteristik ini dalam Al-Qur'an dapat ditemukan pada surat al-Furqan ayat 63 hingga 76. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1. Tawadhu' (Rendah Hati)

Yaitu sebagaimana firman-Nya, artinya, "(ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati" [QS. Alfurqan : 63]

Inilah sifat pertama 'Ibaadurrahman, yaitu mereka berjalan di atas bumi dengan sangat enteng dan ringan, tidak dibuat-buat, tidak sombong atau pun melengos. Mereka tidak berjalan dengan sangat cepat yang menunjuk-kan sikap suka mengentengkan dan kasar, juga tidak berjalan dengan sangat pelan yang menunjukkan sifat malas dan kumal. Tetapi mereka berjalan dengan ringan, penuh dengan semangat, tekad, kelelakian dan jiwa muda.

Seorang 'Ibaadurrahman berjalan di pelosok bumi untuk mencari rizki dan tuntutan hidup dengan penuh kelembutan dalam batasan-batasan yang diperkenankan Allah subhanahu wata'ala kepada mereka, tidak rakus, tamak, menyia-nyiakan kewajiban, melakukan hal-hal yang diharamkan atau pun berbuat mubadzir. Tidak muncul dari mereka sikap keras, melecehkan, sombong, berbangga-bangga dan berbesar diri.

Mereka tidak berbuat kerusakan di muka bumi, mencari ketinggian, lebih mendahulukan keuntungan duniawi yang fana, tidak berusaha semata hanya untuk mengumpulkan harta dan bersenang-senang dengan kenikmatan kehidupan duniawi.

Mereka juga rendah hati terhadap Allah subhanahu wata'ala, lembut dan ringan, tidak angkuh dan sombong. Mereka mendengar firman Allah subhanahu wata'ala, artinya, "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."

2. Lemah Lembut

Firman Allah swt, artinya, "Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." [QS. Alfurqan : 63]

Ini merupakan sifat ke dua 'Ibaadurrahman, yaitu bila orang-orang jahil mengucapkan ucapan yang buruk, mereka tidak membalas dengan ucapan yang sama tetapi mema'afkan, tidak berkata kecuali yang baik, mereka tidak terpancing oleh kejahilan orang tersebut, tetapi menahan lisan dan emosi mereka.

Mereka memangkas jalan fitnah dan keburukan yang ingin dilakukan orang-orang jahil itu, memadamkan 'kobaran' kejahatan pertama yang andaikata dibalas dengan tindakan yang sama, pastilah apinya akan semakin menyala sehingga bisa menimbulkan perang besar dan kejahatan bergentayangan. Menurut mereka, kepahlawanan bukanlah ditampakkan dengan postur badan yang kuat, berotot, dan mampu menang dalam pertarungan, tetapi kepahlawanan yang hakiki adalah menahan diri ketika marah.

Yang menjadi panutan mereka dalam hal ini adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alihi wasallam yang merupakan manusia paling lemah lembut. Salah satu contohnya, "Ketika ada seorang Arab Badui yang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alihi wasallamdan berkata kasar, lalu kaum Muslimin marah dan ingin memberinya pelajaran, namun hal itu dicegah oleh beliau. Beliau membalas sikap kasar itu dengan kasih sayang dan lemah lembut." (Hadits Muttafaquh 'alaih)

3. Melakukan Qiyamullail

Firman-Nya, "Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka." [QS. Alfurqan : 64]

Allah swt. menyebut para hamba-Nya sebagai orang yang mencintai malam hari dengan melakukan ibadah. Mereka bangun saat orang-orang sedang terlelap tidur, waspada saat orang-orang lengah, sibuk menyong-song Rabbnya, menggantungkan jiwa dan anggota badan mereka kepada-Nya. Saat orang-orang terlena dan merasa mantap dengan kehidupan duniawi, mereka justeru menginginkan 'Arsy ar-Rahman sebab mereka mengetahui bahwa ibadah di kegelapan malam dapat menjauhkan mereka dari sifat riya' dan minta dipuji. Ibadah di malam hari juga membangkitkan kebahagiaan di hati dan ketenangan bagi jiwa serta penerangan bagi penglihatan mereka.

Saat berdiri di hadapan Allah subhanahu wata'ala dan mengarahkan wajah mereka kepada-Nya, mereka merasakan kelezatan dan kebahagiaan yang tiada tara serta kenikmatan yang tak terkira. Tiada lagi rasa manis setelah manisnya beribadah kepada Allah swt., bermesra, dan melakukan kontak dengan-Nya. Melakukan Qiyamullail merupakan sifat asli 'Ibaadurrahman. Allah subhanahu wata'ala menyebut mereka dengan sifat itu dalam banyak ayat dan menganjurkan para Nabi-Nya untuk melakukan hal itu.

4. Takut Api Neraka

"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." [QS. Alfurqan : 65-66]

Sekalipun 'Ibaadurrahman sangat ta'at dan hati mereka dipenuhi dengan ketakwaan namun mereka selalu merasa amalan dan ibadah mereka masih kurang. Mereka tidak melihat hal itu sebagai jaminan dan pemberi rasa aman dari api neraka bila saja tidak mendapatkan curahan karunia dan rahmat-Nya yang dengannya mereka terhindar dari adzab Jahannam. Karena itu, mereka selalu terlihat takut, cemas dan khawatir dengan adzab Jahannam.

Mereka selalu memohon kepada Allah agar Dia menghindarkan mereka dari adzab Jahannam seluruhnya, baik adzab yang dirasakan penghuni abadinya atau pun penghuni semen-taranya. Inilah sifat setiap Mukmin yang bersungguh-sungguh dalam berbuat ta'at dan takut akan adzab Allah swt.

5. Ekonomis Dalam Pengeluaran dan Tidak Boros

"Dan orang-orang yang apabila membe-lanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." [QS. Alfurqan : 67]

'Ibaadurrahman bukanlah orang-orang yang berbuat mubadzir, membelanjakan harta melewati batas keperluan sebab mereka mengetahui benar bahwa boros akan merusak jiwa dan harta. Orang-orang yang berbuat mubadzir adalah saudara-saudara syetan. Syetan selalu menyuruh berbuat keji dan munkar. Mereka juga mengetahui bahwa mereka bertanggung jawab di hadapan Allah subhanahu wata'ala terhadap harta mereka; dari mana mereka peroleh dan kepada siapa mereka infakkan.

Mereka juga tidak pernah kikir terhadap diri sendiri dan keluarga mereka, dalam arti teledor memberikan hak mereka dan tidak berinfaq untuk hal yang telah diwajibkan Allah subhanahu wata'ala, sebab mereka mengetahui bahwa Allah subhanahu wata'ala telah mencela kekikiran dan sifat bakhil. Jiwa nan suci menilai buruk sifat bakhil dan menghindari pelakunya.

Metode berinfaq 'Ibaadurrahman adalah moderat dan menengah, antara bakhil dan boros. Mereka berada di puncak pertengahan antara boros dan bakhil. Mereka meletakkan ayat Allah subhanahu wata'ala berikut di hadapan mata mereka, artinya,

"Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal." (QS. Al-Isra':29)

Yakni janganlah kamu bakhil, sehingga tidak mau memberi sesuatu kepada siapapun dan janganlah pula boros dalam mengeluarkan harta, sehingga memberi di atas kemampuanmu dan mengeluarkannya melebihi pendapatanmu.

Jumat, 24 Februari 2017

99 Asmaul Husna

Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik milik Allah SWT. Secara harfiyah, pengertian Asmaul Husna adalah "nama-nama yang baik". Asmaul Husna merujuk kepada nama-nama, gelar, sebutan, sekaligus sifat-sifat Allah SWT yang indah lagi baik.

Istilah Asmaul Husna juga dikemukakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

"Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai asmaa'ul husna (nama-nama yang baik)" (Q.S. Thaha:8).

Umat Islam dianjurkan berdoa kepada Allah sambil menyebut Asmaul Husna. Misalnya, saat seorang Muslim memohon ampunan-Nya, maka ia berdoa mohon ampun sambil menyebut "Al-Ghoffaar" (Yang Maha Pengampun) dan seterusnya.

"Katakanlah (olehmu Muhammad): Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa'ul husna (nama-nama yang terbaik)..." (Q.S Al-Israa': 110)

"Allah memiliki Asmaul Husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu..." (QS. Al-A'raaf : 180).

Jumlah Asmaul Husna adalah  99 nama, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi, diperkuat dengan hadits riwayat Bukhari.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata Nabi Muhammad Saw bersabda:"Sesungguhnya Allah Swt mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal seluruhnya) masuklah ia kedalam surga" (HR. Bukhari).

Selasa, 07 Februari 2017

TANDA AKHLAK MULIA

Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata:

علامة حسن الخلق عشرة أشياء:
١ - قلة الخلاف.
٢ - حسن الإنصاف.
٣ - ترك تطلب العثرات.
٤ - تحسين ما يبدو من السيئات.
٥ - التماس المعذرة.
٦ - احتمال الأذى.
٧ - الرجوع بالملامة على نفسه.
٨ - التفرد بمعرفة عيوب نفسه دون عيوب غيره.
٩ - طلاقة الوجه.
١٠ - لين الكلام.

"Tanda akhlak mulia ada 10 perkara:

1. Jarang berselisih.
2. Baik dalam bersikap adil.
3. Meninggalkan tindakan mencari-cari kesalahan orang lain.
4. Berusaha memperbaiki keburukan-keburukan yang nampak.
5. Mencarikan udzur bagi orang yang salah.
6. Bersabar menghadapi gangguan orang lain yang menyakitkan.
7. Introspeksi dengan mencela diri sendiri yang juga penuh kekurangan.
8. Hanya sibuk mengurus aib-aib sendiri tanpa mengurusi aib orang lain.
9. Wajah ceria.
10. Lembut perkataannya."

[At-Tanwir Syarh al-Jami' ash-Shaghir, juz 5 hlm. 535]

Minggu, 05 Februari 2017

Takabbur dan Pengertiannya

Takabbur berasal dari bahasa Arab. Takabbara yatakabbaru, berarti sombong. Sombong merupakan penyakit hati yang penyebarannya sangatlah akut, terkadang tidak disadari. Perasaan sombong akan menutupi hati yg tadinya putih menjadi hitam dan bisa semakin pekat jika overdosis, hanya dengan satu titik tinta hitam (tergantung kadar virus yg menjangkit) diteteskan ke dalam gelas yg berisi air putih, walhasil gelas air putih berubah menjadi sebuah air berwarna hitam bisa menjadi kelam tergantung pengendalian diri ketika ia mulai larut ke dalam.

Rasulullaah SAW bersabda di dalam hadits qudsi : Allah SWT berfirman

"العَظَمة إِزَارِي، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا عَذَّبته".

Kebesaran adalah (bagaikan) kain-Ku dan Keagungan adalah (bagaikan) selendang-Ku; maka barang siapa yang menyaingi-Ku pada salah satu dari keduanya, niscaya Kuazab dia.

Disebutkan di dalam shohih muslim dari hadits Abdullah ibnu Mas`ud, bahwasanya Rosululloh bersabda:

« لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ »

Artinya:
Tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya ada seberat dzarroh kesombongan lalu berkata seorang laki-laki: “Sesungguhnya seseorang itu menyukai pakaiannya agar senantiasa indah dan sandalnya indah ?”, maka bersabda Rasulullah: ( Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, akan tetapi kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Dengan kata lain, Takabbur (kesombongan) ialah menampakkan kekaguman diri dengan cara meremehkan orang lain dan merasa dirinya lebih besar dibandingkan dengan orang lain, serta tidak mau mendapat kritik dari orang lain.

Yang Tidak jauh berbeda dengan takabbur adalah sifat ujub.
Ujub adalah takjub (mengagumi) terhadap kelebihan diri sendiri adalah bagian dari takabbur yang tersimpan di dalam hati seseorang. Misalnya muncul di dalam dirinya bahwa hanya dia sajalah yang memiliki kesempurnaan ilmu dan amal sedang orang lain tidak.

Seseorang bisa terjebak timbulnya sifat takabbur karena merasa lebih kaya, lebih pintar, kebangsawanannya, lebih gagah, lebih cantik dsb. Begitu banyak pintu-pintu yg dapat menjerumuskan kita ke dalam kesombongan.

Ketahuilah bahwa pintu-pintu tadi itu bisa ditutup dengan keinginan yg kuat kita untuk menutupnya rapat-rapat. Sadarilah bahwa pintu-pintu itu hanyalah sebuah amanah dari Allaah SWT yang harus dipertanggungjawabkan dan difungsikan sebagaimana mestinya karena suatu saat Dia berhak mengambil amanah tersebut dari kita, entah karena dosa kesombongan kita ataupun dosa-dosa kita yang lainnya.

Tetaplah berdzikir, beristighfar, tanamkan sifat rendah hati, low profile, perbaiki diri dengan mencoba mendengar kekurangan saran dan kritikan dari teman, saudara.

Lihatlah sosok Nabi Muhammad SAW ummatNya yg hingga saat ini sudah tidak bisa terhitung jumlahnya tidak sombong,
Rumahnya cuma sepetak rumah kecil di dalam masjid nabawi dan dia sudah dijamin  Allaah SWT masuk surga, beliaupun tidak sombong.

TIGA SUNGAI PEMBESIH

Pertama, sungai taubat nasuha. Siapa  yang bertaubat nasuha maka dosa-dosanya akan terhapus. Kadar dosa yang hilang itu tergantung kadar kesempurnaan taubatnya. Ada taubat yang tidak berpengaruh, karena taubatnya salah atau pura-pura. Ada yang sekedar mampu mengurangi dosa dan ada yang menghilangkan dosa-dosa. Ada yang lebih baik dari itu, karena kesempurnaan taubatnya, keburukan-keburukan yang telah dilakukan diganti oleh Allah dengan pahala kebaikan. Catatan amal keburukan akan berganti dengan catatan-catatan kebaikan. Sebagaimana firman Allah,  “Yubaddilullahu sayyi-aatihim hasanaat, Allah akan menggantikan keburukan mereka dengan kebaikan.

Dipersyaratkan bagi orang yang bertaubat untuk berhenti dari dosa, menyesal, bertekad untuk tidak mengulangi kembali, beristigfar, dan jika berhubungan dengan manusia, hendaknya dia menyelesaikan ketika di dunia.

Adapun sungai kedua adalah sungai kebaikan, yang bisa menghilangkan dosa-dosa. Semakin banyak kebaikan yang kita lakukan akan bisa menutupi dosa-dosa kita. Sehingga kelak timbangan kebaikan lebih berat daripada timbangan keburukan.

Allah ta’ala berfirman, “Bahwa kebaikan –kebaikan itu bisa menghapuskan keburukan-keburukan.” (QS. Al-Furqan: 70)

Disamping itu, ada kebaikan yang oleh Nabi disebut sebagai penghapus dosa, seperti umrah, memperbanyak langkah ke masjid, wudhu, begitupun dengan shaum Arofah maupun Asyura.

Sungai ketiga adalah sungai musibah. Setiap manusia akan mengalami musibah; yang mukmin maupun yang kafir. Bagi seorang mukmin musibah akan menjadi penggugur dosa-dosa.

Inilah tiga sungai pembersih dosa. Maka jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Allah akan memasukkan ia ke salah satu atau ketiga sungai tersebut. Maka siapa yang telah bersih kotoran dosanya dengan tiga sungai di dunia, tak perlu lagi ia dibersihkan di ‘sungai’ jahannam. Dan dipersilakan kepada mereka “salaamun ‘alaikum udkhulul jannata bimaa kuntum ta’maluun”, selamat atas kalian, masuklah kalian ke dalam jannah, dengan sebab apa yang kalian kerjakan. Semoga Allah wafatkan kita dalam keadaan bersih, aamin.

[lihat Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah]

Jangan pernah meremehkan kebaikan walau sedikit

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda.

Rasulullah bersabda:

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya)bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum".(HR. Muslim)