Peserta Ujian Semester-an Mengisi Lembar Jawaban

Suasana keseriusan dan penuh khidmat di kelas ruang ujian pada Ujian Semester Ganjil Tahun 2016.

Para Teachers Ceria dan Semangat dalam Membimbing Belajar

Para Teachers siap memberikan arahan, bimbingan pembelajaran kapan dan dimanapun, di kelas maupun di jam pelajaran.

Apresiasi Peserta Didik dalam Pembelajaran di Ruang Kelas Bersama Teachers

Anak didik tidak merasakan lelah, kebosanan dengan metode pembelajaran yang Active Learning dari para Teacher berpengalaman.

Pendampingan Siswa/i dalam Kegiatan Pembelajaran

Pendampingan terhadap anak didik yang diberikan Teachers merupakan kunci sukses dalam pembelajaran di BIC.

Keharmonisan Para Teacher dengan Sesama Tenaga Pendidik

Menjaga solidaritas dan harmonisasi sesama Tenaga Pendidik sangat memungkinkan berefek baik pada Peserta Didik.

Tampilkan postingan dengan label Karakter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karakter. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2017

Passion manusia adalah anugerah Tuhan

Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller”, mengemukakan beberapa hal tentang bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang :

1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki
(rumah, mobil, uang dan harta lain).

Passion (rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai.

Akibatnya, bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lebih dihargai daripada CARA memperoleh kekayaan tersebut.

Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu.

Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yang wajar.

3. Bagi orang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian.

Ujian Nasional, tes masuk PT dll, semua berbasis hafalan.

Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

4. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran.

Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit- sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun).

5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika, dan Matematika.

Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibatnya sifat eksploratif sebagai upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil risiko kurang dihargai.

7. Bagi kebanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah.

8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta Asia jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Dalam bukunya Profesor Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut:

1. Hargai proses. Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban.
Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.

3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika.

Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban untuk X x Y harus dihafalkan?

Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!

6. Guru adalah fasilitator, 'bukan dewa' yang harus tahu segalanya.

Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAHU!

7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan.
sebagai orang tua kita bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Buku ini sangat bagus berusaha menyadarkan akan kekeliruan kita selama ini, namun dalam pandangan kita jua pun tidak semuanya benar.

Minggu, 05 Februari 2017

Takabbur dan Pengertiannya

Takabbur berasal dari bahasa Arab. Takabbara yatakabbaru, berarti sombong. Sombong merupakan penyakit hati yang penyebarannya sangatlah akut, terkadang tidak disadari. Perasaan sombong akan menutupi hati yg tadinya putih menjadi hitam dan bisa semakin pekat jika overdosis, hanya dengan satu titik tinta hitam (tergantung kadar virus yg menjangkit) diteteskan ke dalam gelas yg berisi air putih, walhasil gelas air putih berubah menjadi sebuah air berwarna hitam bisa menjadi kelam tergantung pengendalian diri ketika ia mulai larut ke dalam.

Rasulullaah SAW bersabda di dalam hadits qudsi : Allah SWT berfirman

"العَظَمة إِزَارِي، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا عَذَّبته".

Kebesaran adalah (bagaikan) kain-Ku dan Keagungan adalah (bagaikan) selendang-Ku; maka barang siapa yang menyaingi-Ku pada salah satu dari keduanya, niscaya Kuazab dia.

Disebutkan di dalam shohih muslim dari hadits Abdullah ibnu Mas`ud, bahwasanya Rosululloh bersabda:

« لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ »

Artinya:
Tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya ada seberat dzarroh kesombongan lalu berkata seorang laki-laki: “Sesungguhnya seseorang itu menyukai pakaiannya agar senantiasa indah dan sandalnya indah ?”, maka bersabda Rasulullah: ( Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, akan tetapi kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Dengan kata lain, Takabbur (kesombongan) ialah menampakkan kekaguman diri dengan cara meremehkan orang lain dan merasa dirinya lebih besar dibandingkan dengan orang lain, serta tidak mau mendapat kritik dari orang lain.

Yang Tidak jauh berbeda dengan takabbur adalah sifat ujub.
Ujub adalah takjub (mengagumi) terhadap kelebihan diri sendiri adalah bagian dari takabbur yang tersimpan di dalam hati seseorang. Misalnya muncul di dalam dirinya bahwa hanya dia sajalah yang memiliki kesempurnaan ilmu dan amal sedang orang lain tidak.

Seseorang bisa terjebak timbulnya sifat takabbur karena merasa lebih kaya, lebih pintar, kebangsawanannya, lebih gagah, lebih cantik dsb. Begitu banyak pintu-pintu yg dapat menjerumuskan kita ke dalam kesombongan.

Ketahuilah bahwa pintu-pintu tadi itu bisa ditutup dengan keinginan yg kuat kita untuk menutupnya rapat-rapat. Sadarilah bahwa pintu-pintu itu hanyalah sebuah amanah dari Allaah SWT yang harus dipertanggungjawabkan dan difungsikan sebagaimana mestinya karena suatu saat Dia berhak mengambil amanah tersebut dari kita, entah karena dosa kesombongan kita ataupun dosa-dosa kita yang lainnya.

Tetaplah berdzikir, beristighfar, tanamkan sifat rendah hati, low profile, perbaiki diri dengan mencoba mendengar kekurangan saran dan kritikan dari teman, saudara.

Lihatlah sosok Nabi Muhammad SAW ummatNya yg hingga saat ini sudah tidak bisa terhitung jumlahnya tidak sombong,
Rumahnya cuma sepetak rumah kecil di dalam masjid nabawi dan dia sudah dijamin  Allaah SWT masuk surga, beliaupun tidak sombong.