Peserta Ujian Semester-an Mengisi Lembar Jawaban

Suasana keseriusan dan penuh khidmat di kelas ruang ujian pada Ujian Semester Ganjil Tahun 2016.

Para Teachers Ceria dan Semangat dalam Membimbing Belajar

Para Teachers siap memberikan arahan, bimbingan pembelajaran kapan dan dimanapun, di kelas maupun di jam pelajaran.

Apresiasi Peserta Didik dalam Pembelajaran di Ruang Kelas Bersama Teachers

Anak didik tidak merasakan lelah, kebosanan dengan metode pembelajaran yang Active Learning dari para Teacher berpengalaman.

Pendampingan Siswa/i dalam Kegiatan Pembelajaran

Pendampingan terhadap anak didik yang diberikan Teachers merupakan kunci sukses dalam pembelajaran di BIC.

Keharmonisan Para Teacher dengan Sesama Tenaga Pendidik

Menjaga solidaritas dan harmonisasi sesama Tenaga Pendidik sangat memungkinkan berefek baik pada Peserta Didik.

Tampilkan postingan dengan label Mutiara Siang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Siang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Maret 2017

Ternyata hanya 1.5 Jam Saja Hidup Manusia Di Dunia

Hidup manusia di dunia terasa sangat lama, 50 tahun sampai 100 tahun, bahkan lebih dari itu.
Namun coba perhatikan dan bandingkan dari ayat al-Qur'an ini.

وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ وَعْدَهُ ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu."

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu."

Mari kita lihat berdasarkan Al-Qur'an sebagai sumber kebenaran yang hakiki.

1 hari akhirat = 1000 tahun dunia

1 tahun dunia = 365 hari

24 jam akhirat = 1000 tahun dunia

3 jam akhirat = 125 tahun dunia

1.5 jam akhirat = 62.5 tahun dunia

Jadi, apabila umur manusia kita rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1.5 jam saja. Sungguh waktu yang sangat singkat.

Pantaslah kita selalu diingatkan tentang masalah waktu hidup di dunia ini yang hanya sebentar. Dalam firmannya :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?." (Al-an'am : 32)

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Al-Ankabut : 64)

Jelaslah sudah, hidup di dunia hanya sementara. Sedangkan hidup di akhirat abadi selamanya. Seorang muslim yang tidak memikirkan hal ini bukanlah orang yang cerdas. Karena rasul sendiri sudah menggariskan bahwa orang cerdas adalah :

الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت

"Orang yang cerdas ialah siapa saja yang dapat menundukkan jiwanya (agar selalu taat kepada Allah, pent) dan ia senantiasa beramal untuk hari (akhirat) sesudah kematiannya."

Selasa, 28 Februari 2017

Keutamaan Istighfar

Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ* آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ *كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ * وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ {الذاريات:١٥-١٨}.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat: 15-18).

Melakukan istighfar di waktu sahur atau qiyamullail merupakan kebiasaan orang orang shaleh.

Penegasan keutamaan istighfar di waktu sahur terdapat di tempat lain :

‎الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأسْحَارِ (١٧

"(Juga sebagai) orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang meninfakkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur."

Di dalam sabda Rasulullah SAW yg menjelaskan tentang keutamaan tahajjud yg berbunyi :

‎يَنْزِل رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُل لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْل الآْخِرِ ، يَقُول : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ ؟ مِنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ؟

"Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Rabb kita akan turun setiap malam ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir. Dia pun berfirman:"Siapa yang berdo’a pada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang minta pada-Ku, Aku akan memberinya dan siapa yang memohon ampunan pada-Ku, Aku akan mengampuninya”. (HR. Bukhari, Muslim)

Mari kita beristighfar...

أسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ الَّذِي لاَ إلَهَ إلاَّ هُوَ، الحَيُّ القَيُّومُ، وَأتُوبُ إلَيهِ.

Karena istighfar juga salah satu kunci pembuka rezeki...

Minggu, 26 Februari 2017

Motivasi untuk para penulis


"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus jutaan kepala,” (Sayyid Quthub)

"Kalau Engkau bukan anak raja, dan engkau bukan anak ulama' besar, maka jadilah penulis" (Imam Al-Ghazali)

"Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah."
(Dari perkataan Qatadah, Tafsir al-Qurthubi)

"Setetes tinta Ulama lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada ribuan darah syuhada' yang meninggal di medan perang".
(Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Bab Ilmu)

PENTINGNYA ADAB

"Sholat di masjid itu penting.. tapi adab dalam masjid itu lebih penting.
Sholat itu penting.. namun adab dlm sholat itu lebih penting..
Membaca Alquran itu penting..
namun adab membaca Al quran itu lebih penting..
Karena amalan tanpa adab tidak akan ada keberkahannya..

Sebagaimana ada seseorang yang ingin memberikan hadiah yang besar kepada raja namun dengan pakaian yang tidak sopan, dengan tangan kiri.. tentu saja raja akan marah dan menolak hadiah tersebut karena hakikatnya raja tidak perlu pemberian.

Namun sebaliknya walaupun pemberiaan yang kecil namun dengan adab yang baik akan membuat seorang raja senang dan menerima pemberian tersebut walaupun hakikatnya raja tidak perlu dengan pemberian tersebut.

Adab adalah menganggungkan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama.
Lahirnya para ulama tidak lepas karena orang tuanya memuliakan Adab.
Al fatih, panglima besar penakluk konstantinopel (istanbul) tidak lepas karena orang tuanya sangat memuliakan adab.

Dikisahkan orang tuanya tidak pernah duduk apabila dirumahnya ada alquran.
Dalam kitab ihya, Seseorang yang menghormati orang dunia lebih dari pada orang akhirat maka anaknya tidak akan pernah jadi anak sholeh apalagi ulama.

Raja Romawi mendapatkan keberkahan karena adab, Ketika dikirim surat oleh Baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menjaga surat dan menyimpannya maka Baginda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata bahwa kerajaan romawi (eropa) tidak akan runtuh sampai hari kiamat.

Sebaliknya Raja persia ketika dikirimi surat oleh Baginda Nabi Sallallahu 'Alaihi Wa sallam dia menyobek dan membuangnya maka Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wa sallam berkata kerajaan dia akan runtuh. Maka runtuhlah kerajaan persia.

Dengan adab amal kecil akan bernilai besar dan sebaliknya tanpa adab amal besar bisa tidak bernilai.

Semoga kita bisa menjaga adab-adab dalam setiap amal perbuatan kita.

Yang harus dilakukan oleh seorang pencari ilmu

ينبغي أن يكون لطالب العلم ستة أوراد في يومه لا يتركها بحال:

1_ ورد القرآن وأقله جزء.
٢_ ورد الحفظ وأقله خمسة أبيات من منظوم أو سطر واحد من منثور.
٣_ ورد المذاكرة وأقله درسان.
٤ _ ورد المطالعة وأقله خمسون ورقة.
٥_ ورد الذكر وأقله أذكار الصباح والمساء التي يتلقاها عن شيخه.
٦_ ورد قيام الليل وأقله ركعتان.

Rabu, 08 Februari 2017

Alhamdulillah...!

Seorang kaya melihat melalui jendela dan melihat seseorang mengambil sesuatu dari Tong sampah.. Ia mengatakan, "Alhamdulillah Allah saya tidak miskin".

Orang Miskin memandang sekeliling dan melihat seorang pria telanjang di jalan. Ia mengatakan, "Alhamdulillah Allah aku tidak Gila".

Pria gila memandang ke depan dan melihat ambulans yang membawa pasien. Ia mengatakan, "Alhamdulillah Allah saya tidak sakit".

Kemudian orang sakit di rumah sakit melihat troli mengambil mayat ke kamar mayat. Ia mengatakan, "Alhamdulillah Allah aku tidak mati".

Hanya orang yang sudah mati,  tidak dapat  berterima kasih kepada Allah. Segala amal perbuatannya sudah di putus. Yang ada  akan mempertanggungjawabkan perbuatannya selama hidup di dunia.

Tidakkah kita berterima kasih karena hari ini Allah telah memberikan kesempatan untuk hidup sehari lagi?

Alhamdulillah......

Selasa, 07 Februari 2017

8 Wasiat Para Nabi

Delapan wasiat para nabi, adalah:

1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.
2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.
3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.
4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.
5. Ingatlah Allah selalu.
6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.

Kebersajaan ala Rasulullah saw

Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:

“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al- Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)

Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah menangis melihat kesahajaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai beliau hanya tidur di atas selembar tikar tanpa dialasi apapun. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

Aku melihat bekas tikar di lambung/rusuk beliau, maka aku pun menangis, hingga mengundang tanya beliau, “Apa yang membuatmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sungguh Kisra (raja Persia, –pent.) dan Kaisar (raja Romawi –pent.) berada dalam kemegahannya, sementara engkau adalah utusan Allah.” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau ridha mereka mendapatkan dunia sedangkan kita mendapatkan akhirat?” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)

Dalam kesempatan yang sama, Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nabinya:

“Mohon engkau wahai Rasulullah berdoa kepada Allah agar Allah memberikan kelapangan hidup bagi umatmu. Sungguh Allah telah melapangkan (memberi kemegahan) kepada Persia dan Romawi, padahal mereka tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Rasulullah meluruskan duduknya, kemudian berkata, “Apakah engkau dalam keraguan, wahai putra Al-Khaththab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan kesenangan (kenikmatan hidup/rezeki yang baik- baik) mereka di dalam kehidupan dunia?” (HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679).

Dosa Apa yang dihapus?

Apakah dosa-dosa yang dihapuskan itu meliputi semua dosa, dosa kecil dan dosa besar? Atau hanya dosa kecil saja? Dalam masalah ini para ulama berselisih.

Sebagian ulama, termasuk Ibnu Hazm rahimahullah, berpendapat sebagaimana zhahir hadits. Bahwa semua dosa terhapuskan, baik dosa besar, atau dosa kecil.

Namun jumhur ulama, termasuk Imam Ibnu Abdil Barr, Imam Ibnu Rajab, berpendapat bahwa dosa-dosa yang terhapus dengan amal-amal shalih, seperti wudhu’, shalat, shadaqah, puasa, dan lainnya, termasuk puasa Arafah ini, hanyalah dosa-dosa kecil.

Pendapat jumhur ini di dukung dengan berbagai alasan, antara lain:

Allah telah memerintahkan tobat, sehingga hukumnya adalah wajib. Jika dosa-dosa besar terhapus dengan semata-mata amal-amal shalih, berarti taubat tidak dibutuhkan, maka ini merupakan kebatilan secara ijma’.

Nash-nash dari hadits lain yang men-taqyid (mengikat; mensyaratkan) dijauhinya dosa-dosa besar untuk penghapusan dosa dengan amal shalih.

Dosa-dosa besar tidak terhapus kecuali dengan bertobat darinya atau hukuman pada dosa tersebut. Baik hukuman itu ditentukan oleh syariat, yang berupa hudud dan ta’zir atau hukuman dengan takdir Allah, yang berupa musibah, penyakit, dan lainnya.

Bahwa di dalam syariat-Nya, Allah tidak menjadikan kaffarah (penebusan dosa) terhadap dosa-dosa besar. Namun, kaffarah itu dijadikan untuk dosa-dosa kecil. (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, syarh hadits no. 18, karya al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali).